Pernah ada di rapat di mana seseorang bilang "produk kita harus WCAG compliant" dan semua orang cuma mengangguk pura-pura paham? Anda tidak sendirian. WCAG adalah salah satu istilah yang sering muncul dalam pembahasan produk digital, tapi jarang benar-benar dijelaskan dengan bahasa yang mudah dicerna.
Artikel ini akan membahas apa itu WCAG 2.2 dari awal, tanpa asumsi Anda sudah paham istilah teknis apa pun. Kalau Anda seorang desainer, developer, product manager, atau pemilik bisnis yang baru pertama kali dengar istilah ini, ini tempat yang tepat untuk mulai.
Apa itu WCAG, sebenarnya?
WCAG adalah singkatan dari Web Content Accessibility Guidelines, alias Panduan Aksesibilitas Konten Web. Ini adalah kumpulan standar yang dibuat oleh W3C (World Wide Web Consortium), organisasi yang juga menentukan standar teknis web lainnya seperti HTML dan CSS.
Intinya sederhana: WCAG adalah panduan supaya website dan aplikasi bisa digunakan oleh semua orang, termasuk orang dengan disabilitas, baik itu disabilitas penglihatan, pendengaran, motorik, maupun kognitif. Tanpa panduan semacam ini, banyak keputusan desain dan teknis yang terlihat sepele justru bisa membuat sebagian pengguna sama sekali tidak bisa menyelesaikan tugas sederhana di website Anda, seperti mengisi formulir, membaca informasi penting, atau menyelesaikan transaksi.
WCAG sudah melalui beberapa versi sejak pertama kali dirilis tahun 2008: WCAG 2.0, lalu WCAG 2.1 di tahun 2018, dan yang paling baru, WCAG 2.2, yang resmi menjadi standar W3C pada Oktober 2023. Setiap versi baru menambahkan kriteria baru tanpa menghapus atau mengubah kriteria dari versi sebelumnya, jadi kalau website Anda sudah memenuhi WCAG 2.1, Anda sudah berada di jalur yang tepat menuju WCAG 2.2.
Kenapa WCAG 2.2 relevan sekarang
Ada dua alasan praktis kenapa WCAG 2.2 layak Anda perhatikan sekarang, bukan nanti.
Pertama, ini adalah standar paling terkini yang dipakai secara internasional. Banyak regulasi di berbagai negara merujuk langsung ke WCAG sebagai standar teknis, termasuk regulasi di Uni Eropa lewat European Accessibility Act. Kalau bisnis Anda melayani pasar internasional atau berencana ke sana, memahami WCAG 2.2 bukan lagi sekadar nice-to-have.
Kedua, dan ini yang sering terlewat, Indonesia sendiri sudah punya dasar hukum yang mendukung aksesibilitas digital. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang meratifikasi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD), mengamanatkan penyediaan aksesibilitas di semua aspek kehidupan, termasuk akses terhadap informasi. Di tingkat teknis, ada juga upaya dari Kementerian Komunikasi dan Digital (sebelumnya Kominfo) yang mengembangkan pedoman aksesibilitas digital dengan merujuk pada ISO 40500, yang sebenarnya adalah WCAG versi internasional dalam bentuk standar ISO. Jadi meskipun belum ada regulasi yang secara eksplisit mewajibkan WCAG 2.2 di Indonesia, arah kebijakan yang ada sudah jelas menuju ke sana.
Empat prinsip dasar WCAG (disingkat POUR)
Salah satu hal yang membuat WCAG terasa rumit adalah jumlah kriterianya yang banyak. Tapi semuanya sebenarnya berakar dari empat prinsip dasar yang disingkat POUR:
Perceivable (Dapat Dipersepsikan) — informasi di website harus bisa "ditangkap" oleh indra yang berbeda-beda. Contoh paling umum: gambar harus punya teks alternatif (alt text), supaya orang yang menggunakan screen reader tetap tahu isi gambar itu, dan video harus punya teks (caption) untuk yang tidak bisa mendengar audio.
Operable (Dapat Dioperasikan) — semua fungsi di website harus bisa dijalankan, tidak cuma lewat mouse atau sentuhan layar, tapi juga lewat keyboard saja. Ini krusial untuk orang dengan disabilitas motorik yang tidak bisa menggunakan mouse secara presisi, dan juga untuk pengguna assistive technology lainnya.
Understandable (Dapat Dipahami) — bahasa dan perilaku website harus jelas dan konsisten. Misalnya, pesan error di formulir harus menjelaskan dengan jelas apa yang salah dan bagaimana memperbaikinya, bukan cuma menampilkan kotak merah tanpa keterangan.
Robust (Kuat/Tangguh) — konten harus bisa dibaca dengan benar oleh berbagai teknologi, termasuk assistive technology seperti screen reader, baik sekarang maupun di masa depan. Ini biasanya soal kode yang ditulis dengan benar dan mengikuti standar HTML.
Setiap kriteria spesifik dalam WCAG, dari yang paling sederhana sampai paling teknis, pada akhirnya bisa dikelompokkan ke salah satu dari empat prinsip ini.
Level konformansi: A, AA, dan AAA
WCAG juga membagi kriterianya ke dalam tiga level: A, AA, dan AAA.
Level A adalah persyaratan paling dasar. Kalau sebuah website tidak memenuhi level A, biasanya ada barrier fundamental yang membuat sebagian pengguna benar-benar tidak bisa mengakses kontennya.
Level AA adalah level yang paling umum dijadikan target, baik oleh perusahaan maupun regulasi di berbagai negara. Kalau ada orang menyebut "kita harus WCAG compliant" tanpa keterangan lebih lanjut, kemungkinan besar yang dimaksud adalah level AA.
Level AAA adalah level paling ketat, dan biasanya tidak diwajibkan secara umum karena beberapa kriterianya cukup sulit dipenuhi untuk semua jenis konten. W3C sendiri menyebut level ini sebagai sesuatu yang direkomendasikan, bukan wajib.
Untuk kebanyakan organisasi, target yang realistis dan paling banyak dipakai adalah WCAG 2.2 level AA.
Apa yang baru di WCAG 2.2
WCAG 2.2 menambahkan sembilan kriteria baru dibanding versi 2.1, dan menghapus satu kriteria lama yang sudah dianggap usang (terkait parsing kode HTML, yang sudah ditangani dengan baik oleh browser modern). Semua kriteria dari 2.1 tetap berlaku di 2.2, jadi ini sifatnya menambah, bukan mengganti.
Beberapa kriteria baru yang paling relevan untuk dipahami:
- Ukuran target sentuh minimum — tombol dan elemen yang bisa diklik di layar sentuh sebaiknya punya ukuran minimum tertentu, supaya orang dengan keterbatasan motorik tidak salah pencet elemen yang terlalu kecil dan berdekatan.
- Fokus yang tidak terhalang — saat seseorang menavigasi dengan keyboard, elemen yang sedang aktif (fokus) tidak boleh tertutup sebagian oleh elemen lain seperti header yang sticky atau pop-up.
- Bantuan yang konsisten — kalau ada link bantuan, kontak, atau live chat di sebuah halaman, posisinya sebaiknya konsisten di semua halaman, supaya pengguna tidak perlu mencarinya ulang setiap kali pindah halaman.
- Autentikasi yang lebih accessible — proses login sebaiknya tidak mengandalkan tugas kognitif yang sulit (seperti mengingat dan mengetik ulang captcha visual) sebagai satu-satunya cara untuk membuktikan identitas pengguna. Kriteria-kriteria ini sengaja dirancang untuk menjawab kebutuhan yang sebelumnya belum tercakup di WCAG 2.1, terutama untuk pengguna dengan disabilitas kognitif, gangguan penglihatan, dan keterbatasan motorik di perangkat sentuh.
Bagaimana cara mulai menerapkannya
Kalau ini terasa banyak, itu wajar. Tapi Anda tidak harus langsung menguasai semua 86 kriteria WCAG 2.2 sebelum mulai bertindak. Beberapa langkah praktis yang bisa dimulai dari sekarang:
Cek dulu dasar-dasarnya: apakah semua gambar di website Anda punya alt text yang relevan? Bisakah seluruh website dinavigasi hanya dengan keyboard, tanpa mouse sama sekali? Apakah kontras warna teks dan latar belakangnya cukup jelas dibaca?
Pertimbangkan untuk mulai belajar dari sumber yang memang dirancang untuk pemula. Kami sendiri mengelola dua sumber belajar gratis yang bisa membantu: Aksesibel.id untuk memahami dasar-dasar aksesibilitas digital secara umum, dan PanduanWCAG.com yang menjelaskan setiap kriteria WCAG satu per satu dalam bahasa Indonesia yang jelas.
Automated testing tool seperti axe DevTools atau Lighthouse bisa jadi titik awal yang baik untuk menemukan masalah-masalah dasar, tapi penting diingat: alat otomatis biasanya hanya bisa mendeteksi sebagian dari seluruh kriteria WCAG, sisanya tetap butuh pengujian manual, termasuk pengujian langsung dengan assistive technology seperti screen reader.
Kapan saatnya minta bantuan profesional
Banyak organisasi yang mulai dengan niat baik, lalu kehabisan waktu atau sumber daya untuk benar-benar menuntaskan implementasinya. Itu wajar, mengingat WCAG 2.2 memang cukup luas cakupannya.
Kalau Anda ingin tahu posisi organisasi Anda saat ini sebelum memutuskan langkah berikutnya, kami punya Accessibility Maturity Assessment gratis yang bisa diselesaikan dalam waktu 10-15 menit. Assessment ini akan memberi gambaran kematangan aksesibilitas organisasi Anda di tujuh dimensi berbeda, berdasarkan kerangka kerja resmi dari W3C.
Kalau Anda sudah tahu butuh evaluasi yang lebih mendalam terhadap produk digital yang spesifik, jasa audit aksesibilitas kami bisa membantu mengidentifikasi barrier konkret di website atau aplikasi Anda, lengkap dengan rekomendasi yang bisa langsung ditindaklanjuti tim Anda.
WCAG memang terlihat rumit dari luar, tapi intinya sederhana: membuat produk digital yang bisa dipakai oleh lebih banyak orang. Mulai dari memahami empat prinsip dasarnya saja, Anda sudah selangkah lebih maju dari kebanyakan orang yang cuma mengangguk pura-pura paham di rapat.