Catatan: artikel ini ditulis dari sudut pandang Rifat Najmi, pendiri radikal studio.

Saya belajar soal accessibility tahun 2018. Saya baru benar-benar memahaminya tahun 2023.

Selama bertahun-tahun di antara dua momen itu, accessibility bagi saya adalah sebuah keahlian profesional, sesuatu yang saya pelajari, terapkan dalam pekerjaan, dan kadang saya bagikan ke desainer lain lewat sesi-sesi singkat. Saya tidak menyangka bahwa suatu hari nanti, accessibility akan berhenti menjadi sekadar keahlian, dan mulai menjadi sesuatu yang saya jalani sendiri.

Awal mula: accessibility sebagai keahlian

Saya sudah berkarier sebagai desainer sejak 2011, mengerjakan produk digital untuk berbagai perusahaan, dari startup lokal sampai perusahaan teknologi besar seperti IBM, Gojek, Traveloka, dan Halodoc. Tahun 2018, saya mengikuti kursus tentang accessibility, dan mulai menerapkan beberapa prinsipnya dari sudut pandang desain visual.

Saya merasa cukup paham. Saya bahkan sempat membawakan materi soal WCAG di beberapa sesi untuk komunitas desainer. Tapi pemahaman saya saat itu masih di permukaan, sesuatu yang saya tahu cara menerapkannya secara teknis, tapi belum benar-benar saya rasakan dampaknya.

2023: ketika accessibility berhenti jadi teori

Pertengahan 2023, saya didiagnosis Guillain-Barré dan Miller Fisher overlap syndrome, sebuah kondisi langka yang menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan sementara. Saya dirawat di rumah sakit selama sembilan hari, dan butuh waktu sekitar tiga bulan terapi sampai saya bisa kembali bergerak dan berjalan dengan normal.

Selama masa itu, saya untuk pertama kalinya benar-benar mengalami apa yang selama ini saya rancang solusinya untuk orang lain: tidak bisa mengandalkan tubuh sendiri untuk melakukan hal-hal yang dulu terasa sepele, butuh bantuan orang lain untuk aktivitas paling dasar, dan menghadapi dunia yang sebagian besar tidak dirancang untuk kondisi seperti ini.

Saya pulih, dan saya bersyukur untuk itu. Tapi pengalaman itu mengubah cara saya melihat pekerjaan saya sendiri. Accessibility bukan lagi sekadar checklist teknis. Itu adalah perbedaan antara seseorang bisa menjalani harinya atau tidak.

2025: menyadari masih banyak yang belum saya pahami

Awal 2025, saya mengikuti ujian sertifikasi CPACC (Certified Professional in Accessibility Core Competencies). Di tengah ujian, saya kesulitan menjawab pertanyaan dasar soal kapan seharusnya sebuah gambar diberi teks alternatif, padahal itu adalah salah satu kriteria paling awal dalam WCAG. Saya sempat berpikir saya akan gagal ujian itu, meski akhirnya lulus.

Momen itu membuat saya berhenti dan bertanya pada diri sendiri: setelah bertahun-tahun bekerja di bidang ini, kenapa saya masih kesulitan dengan hal yang sebenarnya cukup dasar? Saya menyadari bahwa pemahaman saya selama ini lebih banyak soal "bagaimana menerapkannya", bukan "mengapa setiap kriteria itu penting".

Dari situ, saya mulai membangun Panduan WCAG Indonesia, sebuah proyek yang awalnya saya buat untuk memperdalam pemahaman saya sendiri, dengan menjelaskan ulang setiap kriteria WCAG dalam bahasa yang sederhana. Saya merilisnya bertepatan dengan Global Accessibility Awareness Day, Mei 2025. Tidak lama setelah itu, saya menyadari bahwa panduan teknis saja tidak cukup; orang juga perlu membangun kesadaran soal pentingnya accessibility sejak awal. Itu yang mendorong saya membangun Aksesibel sebagai langkah lanjutannya.

Mengakui disabilitas saya sendiri

Akhir tahun yang sama, setelah berbulan-bulan mencari jawaban atas kelemahan otot yang terus berulang di kaki saya, saya didiagnosis polymyositis, sebuah kondisi autoimun kronis yang akan saya hadapi seumur hidup, bukan sesuatu yang bisa "sembuh total" seperti yang saya alami di tahun 2023.

Pada Agustus 2025, saya ikut membangun Tidak Terlihat, sebuah gerakan kesadaran untuk isu disabilitas yang tidak terlihat secara fisik, bersama salah satu pemohon judicial review Undang-Undang Disabilitas di Mahkamah Konstitusi. Mengerjakan proyek itu adalah pertama kalinya saya secara terbuka mengakui bahwa saya sendiri adalah penyandang disabilitas, bukan cuma seseorang yang merancang solusi untuk orang lain.

Butuh waktu sampai ke titik itu untuk saya benar-benar memahami bahwa accessibility bukan topik yang saya pelajari dari luar. Itu adalah bagian dari hidup saya sendiri.

Mengapa radikal studio ada

Semua pengalaman ini, karier saya sebagai desainer, krisis kesehatan yang saya lalui, proses belajar ulang yang dipicu oleh kegagalan kecil di ujian sertifikasi, sampai keterlibatan saya dalam advokasi disabilitas, akhirnya bertemu di satu tempat: radikal studio.

Saya mendirikan radikal studio bukan cuma untuk menjual jasa audit atau konsultasi accessibility. Saya mendirikannya karena saya tahu, dari pengalaman langsung, bahwa accessibility bukan tentang memenuhi standar teknis semata. Itu tentang memastikan dunia digital punya tempat untuk semua orang, termasuk orang-orang yang, seperti saya, awalnya tidak menyadari bahwa mereka termasuk di dalamnya.

Kalau Anda sedang mempertimbangkan untuk mulai memperhatikan accessibility di organisasi Anda, saya mengerti kalau itu terasa seperti topik yang abstrak atau jauh dari kebutuhan bisnis sehari-hari. Saya pernah berpikir begitu juga. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa siapa pun bisa, sewaktu-waktu, berada di sisi lain dari layar yang sedang Anda rancang.