1. Ringkasan eksekutif

Riset ini mengaudit aksesibilitas digital pada tujuh situsweb layanan publik pemerintah Indonesia yang paling banyak diakses dan bersifat wajib digunakan warga negara, menggunakan standar internasional WCAG 2.2 Level A dan AA. Pengujian dilakukan pada level homepage dan, untuk situsweb dengan alur pendaftaran/login publik (Pajak, OSS, LAPOR!), turut menyertakan halaman tersebut sebagai bagian dari cakupan uji.

Hasil paling menonjol: tidak satu pun dari tujuh situsweb yang diuji mencapai Grade C ke atas. Tiga situsweb mendapat Grade D, sisanya Grade F.

SituswebSkorGrade
Portal Informasi Indonesia45,5/100D
Direktorat Jenderal Imigrasi44,5/100D
LAPOR! v4.044/100D
BPJS Kesehatan27,5/100F
BPJS Ketenagakerjaan18,5/100F
OSS RBA10,5/100F
Direktorat Jenderal Pajak-7/100F

Tidak ada satu pun situsweb, termasuk yang skornya relatif "terbaik" di antara ketujuhnya, yang mendekati ambang batas kelulusan (Grade C ke atas). Temuan berulang mencakup: elemen navigasi dan tombol fungsional yang sama sekali tidak dapat diakses lewat keyboard (ditemukan di ketujuh situsweb tanpa kecuali), struktur heading yang tidak logis, kontras warna di bawah standar, indikator fokus yang sama sekali tidak terlihat di tiga situsweb, serta labelform yang terputus dari kontrolnya secara kode pada dua situsweb dengan alur pendaftaran yang melibatkan data legal dan finansial warga negara.

Riset ini juga memberi setiap instansi kesempatan menanggapi temuan sebelum publikasi, dan memeriksa penggunaan overlay widget aksesibilitas sebagai bagian dari analisis (tanpa menghitungnya sebagai faktor peningkat skor). Direktorat Jenderal Imigrasi, meski memakai overlay dari UserWay dan mendapat skor tertinggi di antara ketujuh situsweb, tetap memiliki layanan inti yang sama sekali tidak dapat diakses keyboard, membuktikan overlay tidak serta-merta memperbaiki masalah struktural.

Temuan riset ini juga konvergen dengan riset SAFEnet (2025) pada tiga situsweb yang diuji kedua riset (pajak.go.id, bpjs-kesehatan.go.id, dan lapor.go.id), memperkuat bahwa pola kegagalan yang ditemukan bukan kebetulan metodologis satu penguji, melainkan kondisi nyata yang dialami pengguna disabilitas sehari-hari.


2. Latar belakang & urgensi

Layanan publik di Indonesia semakin bergantung pada kanal digital seperti situsweb dan mobile app, mulai dari mengurus dokumen kependudukan, perpanjangan paspor, pembayaran pajak, pendaftaran BPJS, hingga pengurusan izin usaha, kini bisa dilakukan lewat situs web resmi layanan publik. Ketika situsweb-situsweb ini tidak dapat diakses oleh pengguna disabilitas, bukan hanya ketidaknyamanan yang mereka alami, tapi juga kehilangan akses ke hak dasar yang sama dengan warga negara lain.

Indonesia telah meratifikasi Convention on the Rights of Persons with Disabilities (UN CRPD) pada 2011, dan mengesahkan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang secara eksplisit mengamanatkan aksesibilitas terhadap pelayanan publik, termasuk yang berbasis digital. Meskipun demikian, berdasarkan Laporan Riset Aksesibilitas Situs Web Layanan Publik Indonesia untuk Disabilitas Netra yang dikerjakan dan dipublikasikan oleh SAFEnet, seluruh situsweb yang diuji memiliki hambatan bagi pengguna netra. (SAFEnet, 2025)

Skala populasi yang terdampak juga tidak kecil, meski angka pastinya bervariasi tergantung definisi yang dipakai. Kemenko PMK mencatat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia pada 2023, atau sekitar 8,5% dari populasi. Sementara itu, data BPS berdasarkan Long Form Sensus Penduduk 2020 dengan definisi Washington Group Short Set mencatat prevalensi disabilitas tipe 1 (definisi terluas) sebesar 6,42% secara nasional. Terlepas dari perbedaan metodologi pengukuran, populasi yang berpotensi terdampak oleh situsweb pemerintah yang tidak aksesibel tetap berjumlah puluhan juta orang.

Riset ini disusun untuk memberi gambaran objektif dan terukur mengenai sejauh mana situsweb-situsweb layanan publik paling krusial di Indonesia benar-benar dapat diakses, sekaligus menjadi dasar advokasi dan rekomendasi perbaikan yang konkret bagi para pengelola situsweb.

SAFEnet, bekerja sama dengan Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin, telah menerbitkan riset serupa pada 2025 yang menguji 20 situsweb layanan publik menggunakan kombinasi user testing bersama penyandang disabilitas netra (buta total dan low vision) dan evaluasi teknis WAVE, dengan fokus pada standar WCAG 2.1 AA (SAFEnet, 2025).

Riset ini melengkapi dari sisi cakupan kriteria (WCAG 2.2 A/AA, mencakup disabilitas motorik dan kognitif selain netra) dan kedalaman audit per Kriteria Keberhasilan pada tujuh situsweb layanan transaksional bervolume tinggi, disertai skor terbuka per situsweb dan mekanisme tanggapan resmi dari instansi terkait. Tiga situsweb dalam riset ini, yaitu pajak.go.id, bpjs-kesehatan.go.id, dan lapor.go.id, juga termasuk dalam cakupan riset SAFEnet, sehingga hasil kedua riset dapat saling membandingkan temuan pada situsweb yang sama menggunakan metodologi yang berbeda.


3. Metodologi

3.1 Kriteria seleksi situsweb

Situsweb dipilih berdasarkan lima kriteria:

  1. wajib digunakan, tanpa alternatif kanal lain;
  2. skala pengguna aktif yang besar;
  3. risiko tinggi terhadap hak dasar bila tidak dapat diakses;
  4. representasi lintas fungsi pemerintahan, bukan hanya satu sektor; dan
  5. relevansi tinggi bagi pengguna dengan disabilitas secara spesifik (misalnya layanan kesehatan dan ketenagakerjaan).

Pengecualian dari kelima kriteria ini adalah Portal Informasi Indonesia, yang penguji anggap mewakili "wajah" Indonesia di khalayak global.

Riset ini sengaja membatasi cakupan pada tujuh situsweb dengan basis pengguna terluas, mengingat keterbatasan waktu dan sumberdaya yang dimiliki oleh penguji.

3.2 Rubrik penilaian

Setiap situsweb dimulai dari skor 100, dikurangi untuk setiap temuan berdasarkan tingkat keparahan:

  • Kritikal: −3 poin
  • Serius: −2 poin
  • Sedang: −1 poin
  • Minor: −0,5 poin

Skema pengurangan ini dipilih setelah menguji beberapa alternatif skala yang lebih curam (di mana skor hampir selalu jatuh jauh ke bawah nol untuk semua situsweb, sehingga kurang berguna untuk perbandingan).

Skor dikonversikan menjadi grade dengan skala:

  • Grade A: 90-100 poin
  • Grade B: 75-89 poin
  • Grade C: 60-74 poin
  • Grade D: 40-59 poin
  • Grade F: 0-39 poin

Penentuan tingkat keparahan tidak diterapkan secara seragam untuk semua temuan, melainkan disesuaikan dengan masing-masing Kriteria Keberhasilan. Setiap kriteria memiliki pola dampak yang berbeda terhadap pengguna, sehingga ambang batas Kritikal, Serius, Sedang, dan Minor ditentukan secara spesifik per kriteria, bukan berdasarkan definisi generik tunggal yang dipukul rata.

Sebagai contoh, pada 1.1.1 (Non-text Content), elemen fungsional seperti tombol atau tautan berbasis ikon yang sama sekali tidak memiliki nama dikategorikan Kritikal, sementara gambar dekoratif yang tidak diberi penanda kosong dikategorikan Minor. Pada 1.4.3 (Contrast Minimum), kontras yang berada di bawah ambang AA namun masih di atas rasio 2:1 dikategorikan Serius sebagai kondisi default, dan baru naik ke Kritikal apabila rasio kontrasnya sangat rendah sehingga nyaris tidak terbaca. Beberapa kriteria, seperti 2.3.1 (Three Flashes or Below Threshold) yang menyangkut risiko kejang fotosensitif, atau 3.3.4 (Error Prevention untuk transaksi legal dan finansial), tidak mengikuti pola gradasi bertingkat karena cakupan kriteria tersebut memang sudah spesifik ke situasi berisiko tinggi.

Pendekatan granular ini memastikan skor akhir merefleksikan dampak nyata suatu pelanggaran terhadap pengguna, bukan sekadar jumlah pelanggaran yang ditemukan. Pemetaan lengkap tingkat keparahan untuk seluruh 55 Kriteria Keberhasilan Level A dan AA dicantumkan di Lampiran.

3.3 Kebijakan deduplikasi

Satu isu yang sama bisa melanggar lebih dari satu Kriteria Keberhasilan sekaligus (misalnya label yang tidak terhubung ke input melanggar 1.3.1 sekaligus 2.5.3). Untuk mencegah satu isu dihitung berkali-kali dan menggelembungkan skor, temuan dengan akar masalah yang identik hanya dihitung sekali sebagai pengurang skor; kemunculannya di Kriteria Keberhasilan lain dicatat sebagai referensi silang tanpa pengurangan poin tambahan, kecuali kedua kemunculan tersebut benar-benar merepresentasikan dua mekanisme kegagalan yang independen.

3.4 Metode pengujian

Kombinasi tiga metode digunakan pada setiap kriteria: pengujian manual (navigasi keyboard, pemeriksaan kode), pengujian dengan pembaca layar (VoiceOver), dan automated testing menggunakan tools browser (WAVE, headingsMap), dengan tanggal pengujian dan versi tools dicatat di Lampiran untuk keperluan replikasi.

Pengujian dibatasi pada tampilan mobile situsweb dengan mempertimbangkan mayoritas pengunjung situsweb di Indonesia menggunakan handphone/smartphone. (StatCounter, 2026)

3.5 Pemeriksaan overlay widget aksesibilitas

Setiap situsweb turut diperiksa untuk keberadaan overlay widget aksesibilitas pihak ketiga. Keberadaan overlay tidak dihitung sebagai faktor yang meningkatkan skor; sebaliknya, riset ini secara spesifik mencatat apakah situsweb yang memakai overlay tetap memiliki temuan kritikal, sebagai data pembanding independen terhadap klaim compliance instan yang sering dipasarkan produk overlay.

3.6 Proses right-to-respond ke instansi terkait

Sebelum publikasi, setiap instansi terkait dihubungi dan diberi waktu 14 hari kerja untuk menanggapi temuan awal. Tanggapan yang diterima dicantumkan di bagian Temuan per situsweb masing-masing; instansi yang tidak merespons hingga batas waktu dicatat secara konsisten sebagai "tidak ada tanggapan."

3.7 Batasan pengujian

Pengujian ini terbatas pada level homepage dan (untuk situsweb tertentu) alur pendaftaran/login publik, bukan audit menyeluruh atas seluruh halaman dan fitur situsweb. Temuan merupakan snapshot pada satu periode waktu tertentu (7-10 Agustus 2026) dan berpotensi berubah seiring pembaruan situsweb. Pengujian dilakukan oleh satu auditor bersertifikasi CPACC menggunakan kombinasi automated dan manual testing, bukan pengujian acceptance testing pengguna dengan disabilitas riil.

Pengujian juga tidak dilakukan kepada aksesibilitas keseluruhan widget (seperti chat dan overlay aksesibilitas) pihak ketiga, namun hanya dibatasi pada entry point menuju widget tersebut.


4. Temuan per situsweb

Setiap situsweb disajikan dengan format yang konsisten agar mudah dibandingkan:

  • Profil singkat dan URL yang diuji
  • Skor dan breakdown jumlah temuan per tingkat keparahan
  • Ringkasan temuan utama
  • Tanggapan instansi

Daftar temuan lengkap bisa diakses di Google Sheets: Catatan Temuan.

4.1 Portal Informasi Indonesia

Portal Informasi Indonesia adalah sumber informasi mengenai Indonesia, seperti berita terbaru, profil Presiden, Wakil Presiden, parlemen, dan K/L/D, hingga galeri foto dan video. Situsweb ini dikelola oleh Komdigi.

Laman Portal Informasi Indonesia yang diuji adalah:

  • https://indonesia.go.id, sebagai laman utama. Pengujian berfokus pada versi Bahasa Indonesia. Versi Bahasa Inggris hanya diuji sebagian untuk memeriksa akurasi atribut lang="en".

4.1.1 Temuan hasil audit portal

Temuan berdasarkan kriteria WCAG
LevelPassedFailedNot found / not relevant
Level A9814
Level AA897
A+AA171721
Temuan berdasarkan tingkat keparahan isu

Skor akhir: 45,5/100 (Grade D)

Tingkat keparahanJumlah temuan
Kritikal7
Serius13
Sedang4
Minor7
Referensi3

4.1.2 Ringkasan temuan portal

  • Tautan pada konten "Infografis" dan "Galeri Foto" tidak dapat diakses keyboard. Pengguna keyboard-only dan pembaca layar sama sekali tidak bisa menjangkau tautan-tautan ini. Salah satu konten infografis berjudul MudikPedia 2025
  • Toggle ganti bahasa tidak memiliki label sama sekali. Pilihan mengganti bahasa tidak punya accessible name sehingga pengguna pembaca layar tidak bisa mengetahui elemen ini untuk apa. Kode toggle bahasa yang tidak memiliki label
  • Logo IndonesiaGoID memiliki kontras sangat rendah (2,5:1 untuk elemen putih, 1,7:1 untuk elemen merah, jauh di bawah ambang minimum 3:1 untuk elemen non-teks), nyaris tidak terbaca bagi pengguna low vision maupun pengguna yang berada di cahaya terik. Logo tulisan Indonesia berwarna putih, dan GoID berwarna merah, di atas latar berwarna biru langit
  • Icon media sosial di footer tidak memiliki label. Empat tautan (Facebook, Twitter, Instagram, YouTube) hanya berisi ikon tanpa aria-label, sehingga pembaca layar hanya mengumumkan "link" tanpa konteks apapun.
  • Tidak ditemukan skiplink menuju konten utama. Pengguna keyboard harus melewati seluruh navbar dan menu setiap kali membuka halaman baru sebelum sampai ke konten utama.

4.1.3 Tanggapan pengelola portal

Penguji telah menghubungi pengelola portal melalui email pada x Agustus 2026.

4.2 Direktorat Jenderal Imigrasi

Situsweb Dirjen Imigrasi menyediakan berbagai layanan keimigrasian, mulai dari layanan untuk WNI, layanan untuk WNA, Golden Visa, dan sebagainya. Situsweb ini menggunakan overlay aksesibilitas pihak ketiga yang disediakan oleh UserWay.

Laman yang diuji adalah:

  • https://imigrasi.go.id/, sebagai laman utama. Pengujian berfokus pada versi Bahasa Indonesia. Versi Bahasa Inggris hanya diuji sebagian untuk memeriksa akurasi atribut lang="en".

4.1.1 Temuan hasil audit Dirjen Imigrasi

Temuan berdasarkan kriteria WCAG
LevelPassedFailedNot found / not relevant
Level A8815
Level AA1158
A+AA191323
Temuan berdasarkan tingkat keparahan isu

Skor akhir: 44,5/100 (Grade D)

Tingkat keparahanJumlah temuan
Kritikal13
Serius6
Sedang0
Minor9
Referensi13

4.2.2 Ringkasan temuan Dirjen Imigrasi

  • Layanan keimigrasian tidak dapat diakses keyboard. Akses ke fitur inti situsweb (permohonan paspor/visa dan layanan terkait) sama sekali tidak bisa dijangkau pengguna keyboard-only. Audit dengan Chrome DevTools yang menyatakan komponen tersebut tidak focusable
  • Fitur chat dan info situs resmi pemerintah tidak dapat diakses keyboard. Dua elemen fungsional lain juga menjadi hambatan bagi pengguna keyboard-only, menunjukkan pola berulang, bukan kasus terisolasi. Menu chat dengan tulisan "Tanya Mido yuk!"
  • Tautan media sosial dan tautan unduh aplikasi (AppStore/GooglePlay) tidak memiliki nama. Tautan fungsional ini sepenuhnya tidak diketahui fungsinya bagi pengguna pembaca layar. Tombol AppStore tidak memiliki atribut alt
  • Indikator fokus tidak terlihat pada menu bahasa dan item Berita. Pengguna keyboard kehilangan jejak posisinya saat menavigasi dua komponen ini.
  • Overlay tidak membantu. Walau situsweb Dirjen Imigrasi mendapat nilai paling tinggi, penguji tidak menemukan bukti bahwa overlay yang digunakan bisa memperbaiki/mengembangkan aksesibilitas situsweb ini. Terbukti dengan tidak dapat diaksesnya layanan keimigrasian dengan keyboard, juga ada beberapa elemen yang tidak memiliki label.

4.2.3 Tanggapan Dirjen Imigrasi

Penguji telah menghubungi Dirjen Imigrasi melalui email pada x Agustus 2026.

4.3 LAPOR! v4.0

LAPOR! adalah platform pengaduan masyarakat untuk instansi berdasarkan berbagai kategori pelaporan. Saat ini terdapat 2 versi yang live, yaitu v4.0 yang memiliki 10 instansi, dan v3.5 untuk instansi lainnya yang tidak terdapat pada v.4.0. Meskipun demikian, penguji memilih v4.0 dengan asumsi instansi lainnya akan migrasi ke versi terbaru tersebut.

Laman LAPOR! v4.0 yang diuji adalah:

4.3.1 Temuan hasil audit LAPOR!

Temuan berdasarkan kriteria WCAG
LevelPassedFailedNot found / not relevant
Level A61114
Level AA1086
A+AA161920
Temuan berdasarkan tingkat keparahan isu

Skor akhir: 44/100 (Grade D)

Tingkat keparahanJumlah temuan
Kritikal9
Serius11
Sedang6
Minor2
Referensi17

4.3.2 Ringkasan temuan LAPOR!

  • Pengguna tidak diberitahu untuk login sebelum membuat laporan. Pengguna bisa mengisi form pelaporan dengan lengkap, namun ketika mencoba mengirimkannya baru diberitahukan kalau harus login terlebih dahulu. Popup dengan teks "Silakan daftar atau login terlebih dahulu."
  • Menu Kategori Laporan tidak memiliki nama sama sekali. Menu tab untuk memilih kategori laporan hanya berisi radiobutton tanpa aria-label, sehingga pengguna pembaca layar tidak tahu menu tersebut untuk apa. Radio pada Kategori Laporan tidak memiliki accessible name
  • Status wajib diisi hanya ditandai simbol asteriks, tidak terbaca pembaca layar. Seluruh field wajib pada formulir pelaporan hanya ditandai tanda bintang (*) secara visual, tanpa atribut required atau aria-required pada kodenya, sehingga status wajib tidak tersampaikan ke pengguna pembaca layar. Potongan kode label yang menampilkan label tanpa atribut required
  • Accessible name tombol Unggah Lampiran tidak sesuai teks yang terlihat. Teks visual tombol berbunyi "Upload Lampiran", namun aria-label-nya berbunyi "Unggah Lampiran (...)", sehingga tidak memenuhi syarat kesesuaian antara label visual dan nama yang diumumkan ke assistive technology. Accessible name dan label memiliki nama yang berbeda

4.3.3 Tanggapan pengelola LAPOR!

Penguji telah menghubungi pengelola LAPOR! melalui email pada x Agustus 2026.

4.4 BPJS Kesehatan

Situsweb BPJS Kesehatan memberikan informasi mengenai profil badan pengelola, berbagai jenis jaminan kesehatan, berita dan informasi publik lainnya, serta tautan untuk mengunduh aplikasi yang tersedia di AppStore dan Google Play.

Laman BPJS Kesehatan yang diuji adalah:

  • https://www.bpjs-kesehatan.go.id/#/, sebagai laman utama. Pengujian berfokus pada versi Bahasa Indonesia. Versi Bahasa Inggris hanya diuji sebagian untuk memeriksa akurasi atribut lang="en".

4.4.1 Temuan hasil audit BPJS Kesehatan

Temuan berdasarkan kriteria WCAG
LevelPassedFailedNot found / not relevant
Level A81013
Level AA987
A+AA171820
Temuan berdasarkan tingkat keparahan isu

Skor akhir: 27,5/100 (Grade F)

Tingkat keparahanJumlah temuan
Kritikal15
Serius12
Sedang0
Minor7
Referensi16

4.4.2 Ringkasan temuan BPJS Kesehatan

  • Empat kontrol fungsional tidak dapat diakses keyboard, meliputi pengaturan cookies, pagination pada slider, item "Berita", dan tautan pada "Informasi Terbaru". Pola berulang ini menunjukkan masalah sistemik, bukan kasus terisolasi di satu komponen saja. Item Berita tidak dapat diakses keyboard
  • Banyak elemen fungsional tidak memiliki nama sama sekali: logo (navbar dan footer), ikon media sosial, tautan AppStore/GooglePlay, tautan sticky Kontak, tombol pengaturan cookies, dan tautan sertifikasi ISO, semuanya tanpa accessible name. Logo di navbar tidak memiliki atribut alt
  • Kontras warna pada grafik sangat rendah (1,4:1, jauh di bawah ambang minimum), berisiko tinggi karena grafik ini kemungkinan menyampaikan data terkait informasi kesehatan/kepesertaan yang penting bagi pengguna. Kontras warna pada salah satu bagian pie chart hanya 1,4:1
  • Tautan sertifikasi ISO punya masalah ganda: selain tidak memiliki atribut alt, tautannya juga tidak mengarah ke mana pun saat diklik, kombinasi dead link dan missing label pada elemen yang sama.
  • Versi berbahasa Inggris situsweb tetap menggunakan lang="id". Screen reader akan melafalkan konten berbahasa Inggris memakai aturan fonetik Indonesia, mengurangi keterbacaan bagi pengguna yang mengakses versi Inggris situsweb ini.

4.4.3 Tanggapan BPJS Kesehatan

Penguji telah menghubungi BPJS Kesehatan melalui email pada x Agustus 2026.

4.5 BPJS Ketenagakerjaan

Situsweb BPJS Ketenagakerjaan memberikan informasi mengenai jenis kepesertaan, cara klaim manfaat kepesertaan, hingga berita dan informasi publik lainnya.

Laman situsweb BPJS Ketenagakerjaan yang diuji adalah:

4.5.1 Temuan hasil audit BPJS Ketenagakerjaan

Temuan berdasarkan kriteria WCAG
LevelPassedFailedNot found / not relevant
Level A81013
Level AA7107
A+AA152020
Temuan berdasarkan tingkat keparahan isu

Skor akhir: 18,5/100 (Grade F)

Tingkat keparahanJumlah temuan
Kritikal12
Serius18
Sedang6
Minor7
Referensi5

4.5.2 Ringkasan temuan BPJS Ketenagakerjaan

  • Tidak ada satu pun elemen di seluruh halaman yang indikator fokusnya terlihat. Berbeda dari situsweb lain yang biasanya cuma kehilangan fokus di komponen tertentu, di sini masalahnya menyeluruh. Pengguna keyboard benar-benar tidak tahu sedang berada di elemen mana pun saat menavigasi.
  • Teks pada slider utama (hero) memiliki kontras ekstrem rendah, hingga 1,1:1, nyaris tidak ada beda warna sama sekali antara teks dan latar, jauh di bawah ambang minimum manapun. Teks berwarna putih di atas latar bergambar berwarna biru cerah
  • Tiga elemen navigasi utama tidak dapat diakses keyboard: popup banner, menu "Saya Mau", dan menu utama di bawah hero. Kombinasi ini membuat sebagian besar navigasi inti situsweb tidak terjangkau tanpa mouse. Menu "Saya Mau" dan menu utama
  • Fitur simulasi Perhitungan Saldo (JHT/JP) bermasalah di berbagai lapisan. Kesalahan input hanya diberitahukan pada field pertama yang salah, format tanggal lahir dibacakan keliru oleh VoiceOver, dan hasil perhitungan tidak diumumkan ke pembaca layar sama sekali, padahal ini fitur paling penting di situsweb ini. Format tanggal pada simulasi JP dibacakan: "-3.3% Day Tanggal Lahir, stepper, main"
  • Tidak ditemukan skiplink menuju konten utama, memaksa pengguna keyboard melewati seluruh navigasi setiap kali membuka halaman.

4.5.3 Tanggapan instansi BPJS Ketenagakerjaan

Penguji telah menghubungi BPJS Ketenagakerjaan melalui email pada x Agustus 2026.

4.6 OSS RBA

OSS RBA (Online Single Submission Berbasis Risiko) adalah sistem perizinan berusaha terintegrasi secara elektronik yang dikelola oleh Kementerian Investasi/BKPM, digunakan pelaku usaha untuk mengurus berbagai jenis izin usaha di Indonesia.

Laman OSS RBA yang diuji adalah:

4.6.1 Temuan hasil audit OSS RBA

Temuan berdasarkan kriteria WCAG
LevelPassedFailedNot found / not relevant
Level A9139
Level AA9105
A+AA182314
Temuan berdasarkan tingkat keparahan isu

Skor akhir: 10,5/100 (Grade F)

Tingkat keparahanJumlah temuan
Kritikal16
Serius17
Sedang5
Minor5
Referensi22

4.6.2 Ringkasan temuan OSS RBA

  • Label pada formulir login dan pendaftaran tidak terhubung secara kode ke field-nya. Kedua formulir inti situsweb ini sama-sama gagal di titik paling mendasar: pengguna pembaca layar tidak bisa mengetahui field mana untuk apa, karena label tidak pernah terasosiasi dengan input lewat for/id. Label username tidak terhubung dengan field-nya
  • Enam elemen navigasi utama tidak memiliki nama sama sekali: bannerpopup, tombol tutup banner, pagination banner, tombol tutup pengumuman, tombol Search, dan menu hamburger. Hampir seluruh pintu masuk ke situsweb ini tidak bisa dikenali pengguna pembaca layar. Tombol tutup banner tidak memiliki nama
  • Tidak ada indikator fokus yang terlihat pada seluruh input field login dan pendaftaran. Pengguna keyboard mengetik tanpa tahu persis sedang berada di field mana. Indikator fokus tidak terlihat pada input field
  • Banner popup, banner pengumuman, tombol back, dan logo navbar semuanya tidak dapat diakses keyboard. Kombinasi ini membuat pengguna keyboard-only nyaris tidak bisa menyelesaikan alur masuk ke situsweb tanpa mouse.
  • Status field kosong pada login dan pendaftaran hanya ditandai warna merah, tanpa teks atau ikon pendukung, sehingga pengguna buta warna atau pembaca layar tidak mendapat sinyal apa pun soal field mana yang bermasalah.

4.6.3 Tanggapan pengelola OSS RBA

Penguji telah menghubungi pengelola OSS RBA melalui email pada x Agustus 2026.

4.7 Direktorat Jenderal Pajak

Situsweb Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menyediakan informasi perpajakan, berita dan regulasi, serta portal CoreTax sebagai sistem inti administrasi perpajakan untuk pendaftaran dan pelaporan wajib pajak.

Laman situsweb Dirjen Pajak yang diuji adalah:

4.7.1 Temuan hasil audit Dirjen Pajak

Temuan berdasarkan kriteria WCAG
LevelPassedFailedNot found / not relevant
Level A81211
Level AA8106
A+AA162217
Temuan berdasarkan tingkat keparahan isu

Skor akhir: -7/100 (Grade F)

Tingkat keparahanJumlah temuan
Kritikal26
Serius12
Sedang4
Minor2
Referensi22

4.7.2 Ringkasan temuan Dirjen Pajak

  • Hampir semua elemen di laman utama tidak memiliki indikator fokus yang terlihat. Skalanya menyeluruh, bukan pada satu-dua komponen saja, membuat navigasi keyboard di seluruh homepage praktis tidak terlacak.
  • Sembilan elemen navigasi dan fungsional tidak dapat diakses keyboard: popupbanner, logo, Search, menu "Menu", pilihan bahasa, livechat, menu perpajakan, menu Eselon 1, dan menu "Pranala" pada footer. Ini situsweb dengan cakupan kegagalan akses keyboard terluas dari ketujuh situsweb yang diuji. Tombol "Menu" tidak bisa diakses keyboard
  • Field wajib pada pendaftaran CoreTax hanya ditandai simbol asterisks, tanpa atribut required atau aria-required, pada formulir yang melibatkan data identitas dan legal wajib pajak. Field wajib hanya memiliki simbol asterisks
  • Label pada formulir pendaftaran dan login CoreTax tidak terhubung secara kode ke field-nya, termasuk satu kasus di mana atribut for pada login salah target (for="Username" padahal idfield-nya "userid"). Atribut for yang salah pada field userid
  • Skiplink bermasalah di kedua laman utama. Pada homepage, skiplink ada tapi fokus terhalang dan id tujuannya tidak ditemukan (alias tidak berfungsi); pada pendaftaran/login CoreTax, skiplink tidak ada sama sekali.

4.7.3 Tanggapan Dirjen Pajak

Penguji telah menghubungi Dirjen Pajak melalui email pada x Agustus 2026.


5. Analisis lintas situsweb

Rekapitulasi berdasarkan kriteria WCAG
InstansiPassedFailedNot found / not relevant
Portal Informasi Indonesia171721
Direktorat Jenderal Imigrasi191323
LAPOR! v4.0161920
BPJS Kesehatan171820
BPJS Ketenagakerjaan152020
OSS RBA182314
Direktorat Jenderal Pajak162217
Rekapitulasi berdasarkan tingkat keparahan isu
InstansiTotal isuKritikalSeriusSedangMinorReferensi
Portal Informasi Indonesia34713437
Direktorat Jenderal Imigrasi411360913
LAPOR! v4.0459116217
BPJS Kesehatan5015120716
BPJS Ketenagakerjaan481218675
OSS RBA6516175522
Direktorat Jenderal Pajak6626124222

5.1 Pola temuan lintas situsweb

Ketidakmampuan diakses lewat keyboard (2.1.1) adalah pola paling dominan, ditemukan sebagai temuan Kritikal di ketujuh situsweb tanpa kecuali. Skalanya bervariasi, mulai dari satu-dua elemen (Portal Informasi Indonesia) hingga sembilan elemen navigasi sekaligus (Direktorat Jenderal Pajak). Pola ini paling parah justru muncul di situsweb dengan fungsi transaksional inti: layanan keimigrasian di situsweb Dirjen Imigrasi dan hampir seluruh navigasi utama di situsweb Dirjen Pajak sama sekali tidak terjangkau tanpa mouse.

Elemen fungsional tanpa nama (1.1.1) juga ditemukan di ketujuh situsweb, umumnya berupa ikon navigasi, ikon media sosial, dan tautan unduh aplikasi (AppStore/GooglePlay) yang berulang di hampir semua situsweb yang diuji.

Tiga situsweb (BPJS Ketenagakerjaan, Dirjen Pajak, OSS RBA) sama sekali tidak memiliki indikator fokus yang terlihat, baik di seluruh halaman maupun khusus pada input field formulir login/pendaftaran. Ini pola paling mengkhawatirkan karena berlapis dengan masalah keyboard di atas: pengguna yang berhasil menjangkau elemen lewat keyboard pun tetap tidak tahu di mana posisinya.

label yang tidak terhubung secara kode ke input-nya ditemukan secara spesifik pada dua situsweb dengan alur pendaftaran/login transaksional: formulir CoreTax (Dirjen Pajak) dan formulir login/pendaftaran OSS RBA. Kedua kasus ini terjadi pada formulir yang melibatkan data legal, finansial, dan identitas warga negara, sehingga dampaknya lebih berisiko dibanding kegagalan serupa di konten informasional biasa.

Skiplink menuju konten utama gagal di ketujuh situsweb, baik karena benar-benar tidak ada, maupun (khusus Dirjen Pajak) ada tapi rusak, fokus terhalang dan id tujuan tidak ditemukan.

Direktorat Jenderal Imigrasi menjadi bukti bahwa overlay widget aksesibilitas pihak ketiga tidak serta-merta memperbaiki masalah mendasar. Meski memakai overlay dari UserWay dan mendapat skor tertinggi di antara ketujuh situsweb, layanan intinya tetap sama sekali tidak dapat diakses keyboard, dan sejumlah elemen tetap tanpa label. Ini konsisten dengan konsensus praktisi aksesibilitas bahwa overlay tidak bisa menggantikan perbaikan struktural di source code.

5.2 Relasi dengan riset SAFEnet (2025)

Tiga situsweb dalam riset ini, yaitu pajak.go.id, bpjs-kesehatan.go.id, dan lapor.go.id, juga diuji SAFEnet menggunakan kombinasi automated testing dengan WAVE dan user testing bersama pengguna netra. Meski metodologi berbeda, sejumlah temuan saling menguatkan:

5.2.1 Dirjen Pajak

SAFEnet secara eksplisit mencatat "tidak ada skip link atau pintasan ke konten utama"* pada pengujian pengguna dengan low vision, persis dengan temuan riset ini bahwa skiplink di homepage Pajak rusak (fokus terhalang, id tujuan tidak ditemukan) dan sama sekali tidak ada di alur CoreTax.

SAFEnet juga mencatat "beberapa tombol tidak memiliki label" dan "navigasi dengan keyboard terbatas" secara berulang di berbagai putaran pengujian, sejalan dengan temuan riset ini soal sembilan elemen navigasi yang tidak dapat diakses keyboard dan berbagai ikon fungsional tanpa nama.

Menariknya, SAFEnet juga mencatat "fitur aksesibilitas tersedia" pada situsweb ini di beberapa putaran pengujian, kemungkinan merujuk pada widget aksesibilitas visual yang ada, namun catatan yang sama tetap diikuti kegagalan navigasi keyboard dan label, pola yang sama dengan temuan overlay tidak efektif di Dirjen Imigrasi pada riset ini.

5.2.2 BPJS Kesehatan

SAFEnet menemukan masalah yang lebih dalam dari cakupan homepage yang diuji riset ini: proses pendaftaran/login mandiri gagal total karena CAPTCHA berbasis gambar sama sekali tidak dapat diakses pengguna netra, sepenuhnya memblokir akses ke layanan inti.

Riset ini tidak menguji sedalam itu (audit dibatasi level homepage), tapi temuan riset ini soal kontras warna tidak cukup dan elemen navigasi/tombol tanpa label pada level homepage konsisten dengan catatan SAFEnet bahwa "tombol dan navigasi layanan tidak responsif terhadap pembaca layar" dan "teks tidak memiliki kontras warna yang cukup".

5.2.3 LAPOR!

Penguji mengasumsikan laporan SAFEnet pada LAPOR! menggunakan v3.5, sedangkan riset ini menggunakan v4.0. Namun demikian, catatan temuan di sini menunjukkan kesamaan pola yang berulang di kedua versi.

SAFEnet mencatat berulang kali bahwa "ikon media sosial tidak memiliki label teks alternatif", sejalan dengan temuan riset ini di ranah yang sama. Catatan SAFEnet soal "pemberitahuan penting di beranda tidak dapat ditutup dengan pembaca layar" dan "tidak ada fitur Skip to Content" juga sejalan dengan pola kegagalan kontrol penutup elemen dan skiplink yang jadi tema berulang di riset ini secara keseluruhan.

5.2.4 Kesimpulan

Konvergensi temuan dari dua riset independen dengan metodologi berbeda ini (audit kriteria-per-kriteria oleh auditor bersertifikasi versus user testing dengan pengguna netra) memperkuat validitas kedua riset: pola kegagalan yang ditemukan bukan kebetulan metodologis satu peneliti, melainkan kondisi nyata di lapangan.


6. Rekomendasi

Rekomendasi berikut disusun berdasarkan pola kegagalan yang paling sering berulang di ketujuh situsweb, bukan daftar lengkap seluruh temuan (yang bisa diakses di Lampiran). Rekomendasi dipisah menjadi tiga kelompok: perbaikan cepat, perbaikan struktural, dan rekomendasi kebijakan/organisasi.

6.1 Perbaikan cepat (quick wins)

Perbaikan berikut relatif sederhana secara teknis, tapi berdampak besar karena mengatasi pola yang muncul di hampir seluruh situsweb yang diuji:

  • Tambahkan aria-label atau teks visual pada seluruh ikon fungsional (logo, ikon media sosial, tombol pencarian, tautan unduh aplikasi, tombol hamburger) yang saat ini sama sekali tanpa nama.
  • Hubungkan kembali atribut for pada <label> dengan id pada <input> di seluruh formulir, khususnya formulir login dan pendaftaran yang melibatkan data legal/finansial.
  • Tambahkan indikator fokus yang terlihat (outline atau box-shadow pada :focus-visible) di seluruh elemen interaktif, terutama pada tiga situsweb yang saat ini sama sekali tidak punya indikator fokus di manapun.
  • Perbaiki atau tambahkan skiplink menuju konten utama, termasuk memastikan id tujuannya benar-benar ada di DOM (bukan sekadar ada tautannya, seperti kasus di Dirjen Pajak).
  • Ganti penanda warna tunggal dengan indikator tambahan (ikon, teks, garis bawah) untuk status wajib diisi, pesan error, dan pembeda kategori pada grafik, supaya tidak bergantung pada warna semata.
  • Tambahkan atribut required/aria-required="true" pada seluruh field wajib yang saat ini hanya ditandai tanda bintang secara visual.

6.2 Perbaikan struktural

Perbaikan berikut butuh waktu dan koordinasi lebih panjang, karena menyangkut cara komponen dibangun, bukan sekadar menambah atribut:

  • Audit ulang seluruh komponen custom (dropdown, date picker, carousel, combobox) supaya mengikuti pola ARIA Authoring Practices Guide, khususnya soal role, aria-expanded, dan aria-controls yang konsisten antara state visual dan yang diumumkan ke pembaca layar.
  • Pastikan seluruh elemen yang fungsional (bisa diklik) memakai elemen semantik native (<a> untuk navigasi, <button> untuk aksi), bukan <div>/<article> dengan event handler tanpa role dan tabindex.
  • Ganti mekanisme verifikasi CAPTCHA yang hanya berbasis visual dengan memberikan alternatif lain yang aksesibel (misalnya verifikasi berbasis audio, atau metode tanpa tantangan visual sama sekali), khususnya untuk BPJS Kesehatan di mana SAFEnet menemukan CAPTCHA sepenuhnya memblokir proses pendaftaran/login mandiri bagi pengguna netra.
  • Terapkan region live (aria-live/role="status") pada konten yang berubah secara dinamis tanpa perpindahan fokus, seperti hasil kalkulasi, notifikasi sukses/error, dan pergantian tab.
  • Bangun design system internal dengan komponen aksesibel secara default, supaya perbaikan tidak perlu diulang manual di setiap fitur baru, dan supaya konsistensi implementasi antar tim/instansi lebih terjaga.

6.3 Rekomendasi kebijakan dan organisasi

  • Masukkan pengujian aksesibilitas ke siklus QA rutin, bukan hanya audit satu kali. Kasus LAPOR! jadi contoh nyata kenapa ini penting: pola kegagalan yang sama (ikon media sosial tanpa label, pemberitahuan penting yang tidak bisa ditutup pembaca layar, skiplink tidak tersedia) ditemukan konsisten baik di v3.5 (oleh SAFEnet, 2025) maupun v4.0 (oleh riset ini). Artinya, migrasi ke versi platform baru berlangsung tanpa sempat memperbaiki masalah aksesibilitas yang sudah diketahui ada di versi sebelumnya, tanda pengujian aksesibilitas belum jadi bagian rutin dari siklus pengembangan.
  • Hindari mengandalkan overlay widget aksesibilitas pihak ketiga sebagai solusi utama. Temuan riset ini pada Dirjen Imigrasi menunjukkan overlay tidak memperbaiki masalah struktural mendasar, meski situsweb tersebut menampilkan overlay dari UserWay.
  • Latih tim pengembang internal soal WCAG dan pengujian manual/pembaca layar, karena sebagian besar temuan kritikal di riset ini (blockingkeyboard, label terputus) tidak akan terdeteksi oleh automated testing saja.
  • Tindak lanjuti proses tanggapan instansi dengan komitmen jadwal remediasi, bukan sekadar konfirmasi menerima laporan, supaya ada akuntabilitas publik atas perbaikan yang dijanjikan.

7. Penutup

Tidak satu pun dari tujuh situsweb layanan publik yang paling banyak diakses warga negara Indonesia berhasil mencapai Grade C ke atas dalam riset ini. Ini kesenjangan nyata antara amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan implementasi teknis di lapangan, khususnya pada situsweb yang menyangkut hak dasar warga negara: identitas, kesehatan, ketenagakerjaan, perizinan usaha, dan penyampaian aspirasi.

Konvergensi temuan dengan riset SAFEnet (2025) pada tiga situsweb yang sama memperkuat bahwa pola kegagalan ini bukan kebetulan metodologis satu peneliti, melainkan kondisi nyata yang dialami pengguna disabilitas setiap hari. Kasus LAPOR! yang menunjukkan pola kegagalan sama antara versi v3.5 dan v4.0 juga menegaskan bahwa migrasi platform baru belum tentu berarti perbaikan aksesibilitas, selama pengujian aksesibilitas belum jadi bagian rutin dari siklus pengembangan.

Kabar baiknya, sebagian besar temuan dalam riset ini bersifat teknis dan dapat diperbaiki bertahap, bukan perombakan total. Menghubungkan label ke input, menambahkan aria-label pada ikon fungsional, dan memastikan indikator fokus terlihat adalah perbaikan yang bisa dikerjakan dalam hitungan hari, bukan bulan. Perbaikan struktural yang lebih besar, seperti mengganti CAPTCHA visual atau membangun design system yang aksesibel secara default, memang butuh waktu lebih panjang, tapi tetap dalam jangkauan realistis instansi pengelola.

Penguji membuka diri untuk berdiskusi lebih lanjut dengan instansi terkait mengenai audit lanjutan, pelatihan tim internal, atau pendampingan remediasi. Riset ini juga terbuka untuk direplikasi dan diverifikasi siapa pun, seluruh data mentah dan metodologi dicantumkan secara terbuka di bagian Lampiran.

7.1 Tentang penguji

Riset ini disusun oleh Rifat Najmi, pendiri radikal studio (radikal.id), studio konsultasi aksesibilitas digital yang berbasis di Jakarta. Rifat memegang sertifikasi CPACC (Certified Professional in Accessibility Core Competencies) dan telah lebih dari satu dekade berkecimpung di bidang kepemimpinan desain produk, dengan peran terakhir sebagai Head of Product Design di sejumlah perusahaan teknologi terkemuka di Indonesia, termasuk Gojek, IBM, Halodoc, Traveloka, dan Good Doctor.

Berbekal pengalaman tersebut, Rifat mendirikan Radikal Studio dengan misi "Making Accessibility Accessible", menyediakan layanan audit WCAG, konsultasi desain inklusif, dan pelatihan aksesibilitas bagi organisasi di Indonesia. Di luar layanan konsultasi, Rifat juga mengelola Panduan WCAG Indonesia, terjemahan tidak resmi berbahasa Indonesia untuk WCAG 2.2, serta Aksesibel, platform edukasi aksesibilitas digital yang terbuka untuk publik.

Riset ini disusun secara independen sebagai bagian dari komitmen radikal studio untuk mendorong akuntabilitas publik atas aksesibilitas layanan digital pemerintah. Instansi atau pihak lain yang ingin menindaklanjuti temuan dalam riset ini, baik untuk audit lanjutan, pelatihan tim, maupun pendampingan remediasi, dapat menghubungi Rifat melalui situs web radikal.


8. Lampiran

8.1 Dokumentasi

8.2 Tools yang digunakan:

  • MacOS v26.5.2 + VoiceOver Laman About This Mac
  • Google Chrome v151.0.7922.109 Laman About Chrome
  • WAVE v3.3.1.0 Laman manage extension WAVE
  • headingsMap v4.10.7 Laman manage extension headingsMap

9. Daftar pustaka