Kalau Anda baru selesai audit accessibility dan semua temuannya sudah diperbaiki, apakah organisasi Anda otomatis "aman" untuk produk berikutnya? Jawabannya, sayangnya, sering tidak. Audit memberi tahu Anda apa yang salah di satu produk pada satu titik waktu. Yang audit tidak jawab adalah pertanyaan yang lebih penting: apakah organisasi Anda punya sistem yang bisa terus-menerus menghasilkan produk accessible, atau masalah yang sama akan muncul lagi di produk berikutnya?
Pertanyaan itu yang dijawab oleh Accessibility Maturity Model (AMM).
Apa itu Accessibility Maturity Model
AMM adalah kerangka kerja yang dikembangkan oleh W3C (organisasi yang sama yang membuat WCAG) untuk membantu organisasi mengukur seberapa matang praktik aksesibilitas mereka, bukan di level satu produk, tapi di level organisasi secara keseluruhan.
Ide dasarnya sederhana: kebanyakan organisasi sudah punya sistem governance yang matang untuk hal-hal lain, seperti keamanan data atau kualitas produk. Tapi accessibility sering masih jadi upaya individu, satu-dua orang yang peduli, bukan bagian dari sistem organisasi yang konsisten dan berulang. AMM membantu mengidentifikasi sejauh mana accessibility sudah (atau belum) terintegrasi ke dalam cara organisasi Anda bekerja sehari-hari.
Tujuh dimensi yang diukur
AMM mengelompokkan kematangan aksesibilitas organisasi ke dalam tujuh dimensi:
- Budaya — apakah accessibility dianggap tanggung jawab bersama di seluruh organisasi, atau hanya jadi perhatian satu tim kecil yang kebetulan peduli.
- Komunikasi — apakah ada komunikasi yang konsisten soal pentingnya accessibility, baik secara internal ke seluruh tim maupun secara eksternal ke pengguna (misalnya lewat accessibility statement).
- Pengetahuan dan keterampilan — apakah tim desain, pengembangan, dan konten punya pemahaman serta keterampilan praktis yang cukup soal accessibility.
- Personel — apakah ada peran dan tanggung jawab yang jelas terkait accessibility, bukan sesuatu yang "siapa saja yang sempat".
- Pengadaan (procurement) — apakah accessibility jadi salah satu kriteria saat memilih vendor, software, atau tools pihak ketiga.
- Siklus pengembangan produk digital — apakah accessibility dipertimbangkan sejak tahap desain dan perencanaan, atau baru ditambahkan di akhir sebagai "perbaikan" setelah produk hampir jadi.
- Dukungan (support) — apakah ada mekanisme yang jelas untuk membantu pengguna dengan disabilitas yang mengalami kendala, seperti jalur dukungan khusus atau format alternatif.
Ketujuh dimensi ini saling berkaitan. Organisasi yang kuat di satu dimensi tapi lemah di dimensi lain biasanya akan tetap kesulitan mempertahankan hasil accessibility-nya dalam jangka panjang.
Empat level kematangan
Untuk setiap dimensi, AMM mendefinisikan empat level kematangan, seperti anak tangga yang dinaiki organisasi seiring waktu:
Level paling awal adalah ketika organisasi belum punya kesadaran atau pengakuan formal soal pentingnya accessibility. Level berikutnya adalah ketika kebutuhan itu sudah diakui dan beberapa upaya mulai dilakukan, meski sifatnya masih ad hoc dan belum terstruktur. Level selanjutnya adalah ketika sudah ada rencana yang jelas dan sedang dijalankan secara konsisten. Level paling matang adalah ketika accessibility sudah benar-benar terintegrasi ke dalam cara kerja organisasi, dievaluasi secara berkala, dan terus disempurnakan.
Penting dipahami: kebanyakan organisasi tidak berada di level yang sama persis di semua tujuh dimensi. Wajar kalau, misalnya, sebuah organisasi sudah cukup matang di dimensi pengetahuan tim, tapi masih di level awal untuk dimensi pengadaan vendor. Justru di situ nilainya AMM: membantu Anda melihat gambaran utuh, bukan cuma satu sisi.
Bedanya dengan audit accessibility
Ini pertanyaan yang sering muncul, jadi penting diperjelas: AMM dan audit accessibility menjawab pertanyaan yang berbeda, dan keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Audit accessibility menjawab "apakah produk digital spesifik ini, saat ini, punya barrier accessibility yang konkret?" Hasilnya berupa temuan teknis yang bisa langsung diperbaiki. Sementara AMM menjawab "apakah organisasi kami punya kapasitas dan sistem untuk terus menghasilkan produk yang accessible, bahkan setelah audit ini selesai?" Hasilnya berupa gambaran kapasitas organisasi, bukan daftar bug.
Organisasi yang hanya fokus memperbaiki temuan audit tanpa pernah membenahi sistem di baliknya biasanya akan menemukan masalah yang sama lagi di produk berikutnya, karena akar masalahnya, yaitu cara organisasi bekerja, tidak pernah benar-benar disentuh.
Cara mulai mengukur kematangan organisasi Anda
W3C menyediakan AMM dalam bentuk dokumen naratif lengkap dengan spreadsheet pendukung, yang memang sangat detail tapi juga cukup memakan waktu untuk diisi dari awal.
Kami mengadaptasi kerangka kerja ini menjadi Accessibility Maturity Assessment yang lebih ringkas dan bisa diselesaikan dalam waktu 10-15 menit. Anda akan menjawab serangkaian pertanyaan untuk ketujuh dimensi tadi, dan di akhir mendapatkan gambaran skor keseluruhan beserta rincian per dimensi, yang bisa langsung dijadikan bahan diskusi internal di tim Anda.
Setelah tahu di mana posisi organisasi Anda saat ini, langkah yang paling sering kami sarankan adalah duduk bersama tim konsultasi kami untuk menerjemahkan hasil itu menjadi rencana yang konkret dan realistis, disesuaikan dengan kapasitas dan prioritas organisasi Anda saat ini, bukan rencana generik yang sama untuk semua orang.
Mengukur kematangan organisasi memang terasa kurang "konkret" dibanding daftar bug dari sebuah audit. Tapi justru di situlah nilainya: ini bukan tentang memperbaiki satu produk, tapi memastikan setiap produk yang Anda buat setelah ini punya peluang lebih besar untuk accessible sejak awal.